Sebuah Kesaksian

Aku melepasmu saat violet merah baru saja merekah
Dengan berpura-pura tegar kumelepas genggaman keyakinan
Bintang timur pun baru saja pulang saat suaramu mengalun
Ukhhh… Aku terdampar lagi di sudut jiwaku

Aku menunggu lagi semerbak cendana yang kau kibaskan
Aku menunggu kembali siluet merah muda dalam balutan senyummu

Aku berdiri setegar karang, melapuk bak bebatuan
Aku tenang dan tak sanggup menanti

Pergilah, pergilah saja
Aku berharap engkau menjadi aurora mewarnai sepi malamku
Aku menanti kedipan bintang yang terkirim dari kedipan mata lentikmu

Pergi, pergilah saja
Belum selesai sketsa wajahmu kulukis, belum selesai puisi-puisi kubuat
Aku di sini kehilangan sekeping,
aku tak mampu menyelesaikan mozaik ini lagi

Aku malu pada semesta
Aku tak tahu harus berkata apa pada karang dan bebatuan
Kututup muka jika bertemu angin
Tak kuasa melangkah di atas mayapada ini

Tak perlu air mata tuk melihat sedih
Tak perlu derai tawa tuk melihat bahagia
Pergilah, pergilah saja karena aku tak menunggumu
Aku bersedih…

– thank’s to k’al –

Leave a Reply