Sebuah Kesaksian
Wednesday, September 28th, 2005Aku melepasmu saat violet merah baru saja merekah
Dengan berpura-pura tegar kumelepas genggaman keyakinan
Bintang timur pun baru saja pulang saat suaramu mengalun
Ukhhh… Aku terdampar lagi di sudut jiwaku
Aku menunggu lagi semerbak cendana yang kau kibaskan
Aku menunggu kembali siluet merah muda dalam balutan senyummu
Aku berdiri setegar karang, melapuk bak bebatuan
Aku tenang dan tak sanggup menanti
Pergilah, pergilah saja
Aku berharap engkau menjadi aurora mewarnai sepi malamku
Aku menanti kedipan bintang yang terkirim dari kedipan mata lentikmu
Pergi, pergilah saja
Belum selesai sketsa wajahmu kulukis, belum selesai puisi-puisi kubuat
Aku di sini kehilangan sekeping,
aku tak mampu menyelesaikan mozaik ini lagi
Aku malu pada semesta
Aku tak tahu harus berkata apa pada karang dan bebatuan
Kututup muka jika bertemu angin
Tak kuasa melangkah di atas mayapada ini
Tak perlu air mata tuk melihat sedih
Tak perlu derai tawa tuk melihat bahagia
Pergilah, pergilah saja karena aku tak menunggumu
Aku bersedih…
– thank’s to k’al –