Archive for August, 2005

Cinta Memilihmu

Tuesday, August 30th, 2005

janganlah menghindari aku

kuingin kau di sini

tak bisakah kau terima

bila ku tak sempurna

saat ku pandang bintang-bintang

lebih indah dirimu

cahayanya memang terang

tapi dirimu itu menakjubkan

tahukah saat godaan datang

aku pilih kau

tahukah saat ku hilang arah

aku pilih kau

dan berakhirnya di dirimu

sesungguhnya ku tak memilih

cinta lah memilihmu

takkan pernah kuhindari

karna dirimu buatku bahagia

Wanita

Monday, August 29th, 2005

Ia lembut bukan untuk diinjak,

rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.

Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita,

itu sepersekian dari hidupnya…

tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki,

itu akan menyita seluruh hidupnya…

karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki,

karena perempuan adalah bagian dari laki-laki…

apa yang menjadi bagian dari hidupnya,

akan menjadi bagian dari hidupmu.

Keluarganya akan menjadi keluarga barumu,

keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga.

Sekalipun ia jauh dari keluarganya,

namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana…

karena mereka,

ia menjadi seperti sekarang ini.

Perasaannya terhadap keluarganya,

akan menjadi bagian dari perasaanmu juga…

karena kau dan dia adalah satu…

dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya

A Blinded Battlefield

Tuesday, August 9th, 2005

In a battlefield to win our prince charming then a ‘live-happily-ever-after’ ending, we might lose. A lot.

To someone who is more beautiful.

To someone who is richer.

To someone who is more popular.

To someone’s hotter,

Smarter,

Funnier,

Nicer, and so on.

Well, finding the ultimate perfect guy is almost impossible, yet tiring and heart breaking. But, do we stop ? (I don’t, or at least I haven’t J)

Kita benci kekalahan, kan ? Tapi kayaknya bakalan lebih menyedihkan kalau kita gak belajar sesuatu dari hal itu :

§  Bahwa terkadang kita sering dibutakan oleh ‘kecantikan’ laki-laki (uang, kekuasaan, atau tampang, bahkan kadang semuanya ada dalam satu paket) dan merasa kita telah menemukan laki-laki hebat yang sempurna yang kita cari selama ini tanpa mempertimbangkan bahwa di balik semua itu mungkin mereka bukan yang terbaik untuk kita.

§  Waktu kita mengeluh tentang cowok-cowok yang cuma melihat fisik daripada sifat-sifat dan kualitas menyenangkan, mandiri, cerdas yang kita punya, kadang kita lupa bahwa kita juga sering berlaku sama terhadap mereka. Waktunya kita melihat lebih dari yang terlihat, ya kan ?

§  Kita gak butuh memenangkan seorang Ken atau pangeran super ganteng yang layak untuk membuktikan bahwa kita spesial dan cantik.

§  Sebetulnya ini kompetisi yang gila. Gimana gak, dibutuhkan banyak keberanian, cinta, keyakinan, hati lapang dan terbuka, dan juga kebijaksanaan supaya kita bisa melewati masa-masa menyakitkan di ‘medan pertempuran’ di mana cincin dan sumpah setia adalah hadiahnya. Padahal gak ada label ‘satisfaction guarantee’ juga tuh, sekalipun kita menang. Yang artinya, cincin bisa sekadar cincin, dan janji tinggal janji. Ya gak ? J

§  Pejuang cinta sejati tahu banget kapan harus berhenti berjuang, pasrah, dan mulai belajar melepaskannya.

§  We shouldn’t let anyone or anything break us down, or makes us think that we are not good enough for him, or there’s something wrong with us, simply just because we are not the chosen one. Not easy to handle, but it is sure a blessing in disguise.

§  Hidup juga gak cuma soal menemukan pangeran impian, kan ?

§  Fairy tales do come true. Pangeran ganteng kaya berjodoh dengan putrid nan cantik jelita yang punya segalanya. Mereka betulan ada. Bukan buat bikin kita down dan berpikir dunia ini gak adil, tapi untuk kita belajar kalau, ya…that’ the way life is. Some things are just meant to be together.

§  Dengan semua kekalahan dan kekecewaan yang pernah kita rasa, mungkin pelajaran sesungguhnya adalah waktu kita masih bisa senyum dan bersyukur, berpikir bahwa kita sempurna apa adanya, dan yakin bahwa bakalan betul’betul ada prince charming kita yang sejati, yang akan berpikir seperti itu tentang kita. Dia, yang bakalan tetap bilang kita cantik dan sempurna sekalipun kita sedang gosok gigi. So, keep loving and die trying ? J

Wanna add and share some more lessons ?

Defining Beauty

Tuesday, August 9th, 2005

What is beauty ?

Suatu hari saya pernah iseng menanyakan hal itu sama beberapa orang teman-teman cowok. Bukan suatu kesimpulan absolut, tapi setidaknya bisa mewakili pemikiran kaum itu tentang kecantikan, bahwa menurut mereka :

§  Cantik adalah relatif, jelek adalah mutlak (sounds familiar, right ? J)

§  Cantik adalah Dian Sastro, Siti Nurhaliza, Tamara Bleszynski, and so on…yang kalau kita coba cari benang merahnya adalah perempuan berbadan ramping, berkulit putih, berambut panjang, dan berkelakuan ‘manis’.

§  Cantik adalah Sophia Latjuba, Krisdayanti, Britney Spears, and so on. Ternyata ada juga cowok yang mengasosiasikan kecantikan dengan keseksian.

§  Cantik itu yang muda. Imut dan cute seperti Winona Ryder.

§  Cantik itu cewek gue ! Nah, kategori yang ini,mengasosiasikan kecantikan dengan cinta. Memperkuat bahwa beauty is (really) in th eyes of the beholder, dan bahwa kecantikan itu ternyata dipengaruhi juga oleh teori relativitas.

Saya sendiri mencoba membuat beberapa catatan tentang kecantikan :

§  Cantik atau kecantikan adalah masalah asosiasi, unwritten rules yang ada di kepala dan akhirnya mendeskripsikan kecantikan itu sendiri.Misalnya tipikal kulit putih, rambut hitam panjang lurus, dan badan ramping yang sering mendominasi media massa kita, membuat kita mulai percaya bahwa yang seperti itulah yang disebut cantik.

Beberapa pekerjaan seperti pramugari,model atau peragawati,punya asosiasi yang kuat juga dengan kata cantik dan seksi.

Masalah asosiasi ini juga menjelaskan kecantikan dari sisi budaya seperti kaki kecil di Cina, telinga panjang di Dayak, dan juga kenapa konon, cowok-cowok yang lebih menyukai tipe nyaris dua dimensi ala model sementara cowok-cowok lainnya lebih menyukai badan montok berisi. Badan tipis ala model konon berasosiasi dengan keanggunan, sementara montok berisi berasosiasi dengan kemakmuran.

§  Kecantikan adalah masalah form and order, masalah bentuk dan susunannya, proposional atau gak. Saya malah pernah baca, bahwa semakin cantik seseorang, maka akan semakin simetris antara muka kanan dan kirinya.

§  Dan, ya, kecantikan adalah sesuatu yang relatif. Karena sekalipun media invasion sedemikian kuatnya membentuk persepsi kita tentang kecantikan, kadang kita melihat kecantikan sangat berbeda dengan aturan mainstream karena banyak faktor. Mungkin faktor psikologis yang rumit dan perasaan adalah penyebabnya.

But why do we talk about this anyway ? Penting ya, hari gini ngomongin kecantikan ?

Teman saya pernah bilang bahwa ada alasan kenapa Tuhan menciptakan keindahan, termasuk kecantikan. Itu adalah masalah eksistensi, dan saya setuju.

Trying to define our own definition about beauty not only gives us a lot of new thought about many things : about how sometimes the way we think about beauty is so cliché and typical, how sometimes we forget to seek beauty from something unseen, forget to seek it through feelings and emotion, how our mind is so controlled by the media to define what is beauty, and so on.

But the most important things, it left us with the big questions :

Am I beautiful ?

Am I considered beautiful ?

Well, ARE YOU ?

And do you think people would think that you are beautiful ?

And…does it still matter ?

Beauty Excuse

Monday, August 8th, 2005

Ada satu joke favorit saya dari film Murder Of Crows-nya Cuba Gooding Jr. :

Adam  : “Tuhan, kenapa Kau menciptakan Eve begiiitu…cantik dan begiiitu…indah ?”

Tuhan : “Ya…supaya kamu bisa mencintainya, Adam.”

Adam  : “Tapi Tuhan,kenapa Kau menciptakan Eve begitu bodoh ?”

Tuhan : “Ya…ya supaya dia bisa mencintai kamu, Adam !”

Hehehe…mungkin kamu akan berpikir “kurang ajar…enak aja kita dibilang bodoh.” But look at the bright side, kita konon ‘dibuat’ bodoh’ supaya bisa mencintai seorang ‘Adam’, kan ?

Teman saya, cowok, pernah bilang kalau menurut dia dan teman-temannya,laki-laki adalah makhluk visual, jadi kecantikan seorang perempuan itu adalah faktor penting untuk membuat mereka jatuh cinta. Walaupun pada akhirnya dia bilang bahwa kecantikan yang dimaksud di situ adalah (lagi-lagi) relatif menurut individu tiap laki-laki.

Tapi saya jadi berpikir, apakah kecantikanlah yang membuat seorang perempuan dicintai pertama kali ? Yang artinya semakin cantik, dia akan semakin (mudah) untuk dicintai ?

Lalu, banyak cerita di sekitar kita tentang betapa kecantikan bisa membuat segala sesuatu menjadi mudah. Antrean panjang di ATM mendadak menjadi singkat lewat ‘bantuan tak terduga’, sebuah kursi ‘sukarela’ di sebuah bis yang penuh padat, pekerjaan dan posisi tertentu, posisi istimewa di lingkungan karena kecantikan membuat pemiliknya menjadi popular, dan lain sebagainya.

Ada sebuah acara televisi, mirip Candid Camera yang pada sebuah episode memberi umpan seorang perempuan cantik meminta pertolongan pada pejalan kaki tak dikenal (laki-laki tentunya). Sang umpan cantik ini berpura-pura barangnya terjatuh ke dalam gorong-gorong. Hasilnya sungguh mencengangkan ! Betapa kecantikan itu bisa membuat orang-orang menjadi begitu ringan tangan, very helpful and thoughtful, karena ketika si cantik itu diganti dengan perempuan ‘biasa’, pertolongan yang didapat sangat jauh berkurang dari pada ketika si cantik yang menjadi korban.

Being beautiful is advantageous.

No doubt about it.

Questions then :

Is that why we are dying to look and to be considered beautiful ?

To make some guys fall for us ?

To get us the perfect job ?

To make our life easier ?

To take a lot of advantages ?

What’s your excuse for becoming beautiful ?

Equalizing Beauty

Monday, August 8th, 2005

Being beautiful is both a curse and a blessing. Epik Helen Of Troy adalah contoh sempurna untuk menjadi ilustrasi bahwa bukti kecantikan seorang perempuan adalah chaos, kambing hitam sejarah, kesengsaraan, dan peperangan akbar yang legendaris seperti The Trojan War.

It’s in our nature to worship beauty, get addicted by it, becoming a beauty junkie. But also, it’s in our nature to find the great equalizer.

Something like :

“If someone looks good, there’s got to be something wrong with her/him” (Raquel Welch, What Is Beauty ?”

Jadi walaupun kadang-kadang kita melihat model-model jelita itu berpose dengan cantiknya dalam baju-baju menakjubkan yang sebetulnya sih CUMA kelihatan bagus karena mereka yang pakai, kita kadang cemburu dan sebal karena mereka mengintimidasi kita, for not having the perfect body, the perfect hair, perfect size, teeth – for every little thing that we are not.

Terus, dengan nakalnya kita bakalan memasang stereotype seolah model-model itu gak punya otak, lemah otak, Cuma gara-gara mereka kelihatan hebat dan sempurna.

We try to find our great equalizer.

Why ?

First of all, because it hurts to know when you lose ‘the real beauty contest’ to someone more beautiful. And it spreads to be unpleasant intimidating feeling of ‘everything-in-me-is-wrong’.

Then…

Because it feels good.

Because we can. (Nickelodeon)

Because sometimes, the only way to make us feel good about ourselves, is to make other look bad. (Homer Simpson)

Does it make us feel good in the end ?

If you had privilege to make yourself so damn beautiful, stunning like models or superstars, but then you have to live the rest of your life making other people jealous and think you are brain-lack, and only see you for your beauty, making you as their trophy, would you have it ?

Socially Beautiful

Monday, August 8th, 2005

“Apa sih bagusnya dia ?! Cantiknya di mana sih ? Tampangnya biasa banget. Modal putih doing ama tajir.Lihat ya, iteman dikit aja, udah deh…pembantaian (pembantu). Kok bisa-bisanya sih, dia dinobatkan jadi cewek tercantik di sekolah kita ?” celetuk gemas seorang teman saya melihat rivalnya, yang berkulit seputih dan sekinclong kemeja putih yang baru dicuci di iklan sabun cuci, dalam setelah barang bermerek serba wah dan chic itu, ternyata berhasil menggaet cowok impiannya – her prince charming.

Pernah ada di posisi itu ? Been there, done that ?

Later, from that story, I became more sure that beauty is not 2+2=4. It’s relative. Not only in the eyes of beholder, it’s more like : in the eyes of the beholderS. I called it : “socially beautiful”.

Because sometimes, when we talk about beauty, it’s almost the same as the Oscar. Not only it has to fit to its standards, but it’s also simply about what other people around us really…really like, to fit their standards and images about beauty.

Sometimes what really matters, what really rules, is what other people think. About how many people really, really, think it fits their images and associations about beauty.

Just like in Oscar.

Mungkin kamu juga pernah dengar komentar-komentar ini :

“Cantik sih, tapi kata temen-temen gue, neneng-neneng banget cantiknya.”

“Lumayan cakep, tapi kata anak-anak, gak gaul dan gak gaya gitu. Jadi, gak ah…males !”

So the good news is, we don’t have to be drop dead beautiful to be considered beautiful. Just make sure, we are “socially beautiful”, then we are beautiful.

But to be socially beautiful, meaning : we wear the perfect brand and speak the ‘right’ words. The bottom line is, we keep up with the latest trends – what’s in and what’s out.

The thing is, if the way we find beauty, the one that really fits our images and standards, is mostly ruled by what others around us think, by the media, and so on…

Can we really define our own ?

Will it still be the same as what others have in mind ?

Can we independently define what is beauty ?

Beauty = Perfection ?

Monday, August 8th, 2005

This girl is so lovely. She’s so beautiful, rich, popular, and definitely adorable. And yes, I envy her. In fact, I dislike her for a reason.

She made me learn that beauty could be harmfully intimidating, especially if we can’t keep up to its standards.

From time to time, beauty – women’s beauty – always has it’s own standards. What’s in and out. If we are lucky enough to be born and growing up at the perfect time, we might have all those qualities to be considered beautiful.

But the thing is, lucky or not, we always get into it. To its standards.

We try to loose our weight, whitening our skin, straightening our hair, buying stuffs we don’t really need, spend lots of money on make-up, anti-acne cosmetics, anti-aging crème, perfumes, clothes, shoes and bags, do some painful things such as facial, waxing, and so on…

What’s that all about ?

Just to spoil our urge, our nature ?

To fit the profile ?

To fit the picture perfect ?

To be more beautiful ?

And finally, to get us the finest man – in order to prove that we are beautiful ?

Do we still do that ?

Do we need reasons to be beautiful ?

Do we need to be considered beautiful ?

The Power Of Beauty

Monday, August 8th, 2005

Menurut Aristoteles, politik adalah the master of science karena manusia tidak pernah lepas dari politik, dan manusia adalah makhluk politik. A natural-born-politician, perhaps ?

Lalu saya juga pernah membaca bahwa menurut Harold Laswell, politik adalah masalah kepentingan : siapa mendapatkan apa, kapan, dan untuk berapa lama.

Saya jadi berpikir, untuk bisa bertahan, to survive, we need to find out our greatest strength, supaya nantinya punya posisi tawar yang kuat. Karena sekali lagi, hidup ini tentang berpolitik, kan ? Kita pasti pernah melakukan politik skala kecil sekalipun, dalam hubungan pertemanan atau politik kantor, misalnya ?

What’s our greatest strength then ? What’s our power ?

Laki-laki dari kecil dididik dan dipersiapkan untuk jadi pencari nafkah utama keluarga, to have power in a family. Then as we know, in our society today, money is (unfortunately) the driving force. Money is power, artinya the more money they make, the more powerful they are, atau sebaliknya.

As for us, we’ve always been told to be and to always look nice, beautiful.

We recognize and learn that beauty is another form of power.

Well, it is. Beauty is power. Just like sex, beauty has a strong influence to get people addicted in some ways.

Ini menjelaskan kombinasi ‘the richest guy and the most beautiful girl’, atau penyakit laki-laki punya istri muda atau simpanan setelah they make more money, more powerful.

Because life basically is about exchanging power. Just like in politics.

From money to power, from power to money, from money to beauty, from power to beauty, and so on.

Tapi kan zaman berubah. Kita mulai lebih cerdas karena kesempatan belajar juga lebih terbuka untuk perempuan, lalu jadi lebih mandiri secara finansial dan psikologis. Dan cowok juga beubah lebih dandy…lebih ‘cantik’, lebih merawat diri, dan sebagainya.

Questions :

To have a good bargaining position in every ‘exchange of power’ in life – to get what we want and to survive in this world – what is our biggest strength ?

Does beauty still rule ?

Have we changed ?

Beauty Is Filthy Rich ?

Monday, August 8th, 2005

Saya pernah membaca sesuatu hal yang menarik tentang kecantikan :

“Beauty is filthy rich. Our society is still the same old capitalist society which is making woman’s beauty has value on the open market, where the most beautiful girl gets the richest man.”

(Franz Lebowitz, Beauty Is Filthy Rich, What Is Beauty ?)

Saya jadi berpikir bahwa mungkin sebetulnya dunia ini adalah ajang kontes kecantikan yang sebenarnya buat kita, para perempuan. Kita bersaing untuk mendapatkan hadiah utama yang selalu kita idam-idamkan : our prince charming – who gets all of us to think about the ‘live-happily-ever-after’ ending. Just like in a fairy tale.

But to win the contest, is it in the end, finally, only a matter of beauty ? Is it still the same world we used to live in decades before, where beauty RULES among other qualities ?

Is it always like what Franz Lebowitz said ?

The most beautiful girl gets the best and the most qualified man a.k.a the most ELIGIBLE man ?

Does beauty still rule ?

What do you think ?